Aturan Ketat ISBN Mulai 2022

Badan Internasional ISBN di London memberikan teguran kepada Perpusnas karena ketidakwajaran produksi buku di Indonesia. Aturan bermula dari situasi krisis ISBN di Indonesia. Pada tahun 2020 dan 2021, total 208,191 judul buku di Indonesia mendapatkan nomor ISBN.

Alokasi ISBN yang dimiliki Indonesia pada 2018 sebanyak 1 juta. Namun dalam waktu 4 tahun, Indonesia telah menerbitkan setengahnya, yakni 623.000 judul di tahun 2021. Akibatnya tersisa 377.000 nomor ISBN dan efeknya saat itu hanya dapat menerbitkan sekitar 67.340 judul buku per tahun tanpa kehabisan kuota ISBN sebelum dapat jatah baru.

Lonjakan produksi buku yang signifikan ini, sayangnya tidak sejalan dengan peningkatan minat baca masyarakat. Stagnasi indeks literasi di Indonesia, dan ketidakbertumbuhnya pendapatan pelaku penerbitan buku. Dugaan terkait kelalaian pemberian ISBN pada naskah yang tidak tepat guna juga menjadi salah satu penyebab.

Sebagai respon terhadap krisis ISBN, Perpusnas berusaha menerapkan pembatasan ISBN dengan melakukan kurasi ketat terhadap pemberian ISBN. Pemberian ISBN diutamakan untuk buku yang diterbitkan di toko buku atau dicetak dalam jumlah besar untuk didistribusikan secara luas. Pembatasan ini diharapkan dapat mengatasi masalah arus pemberian ISBN yang berlebihan dan mencegah masalah di masa depan.

Pentingnya pengawasan ketat terhadap pemberian ISBN ditekankan untuk mencegah penyalahgunaan dan memastikan bahwa ISBN diberikan dengan tepat. ISBN bukanlah penentu kesahihan suatu karya, dan buku tetap dapat diakui tanpa ISBN.

Leave a Comment